Bee My Honey

Lebah dan madu seperti mata uang dengan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Jika seseorang memelihara lebah, dia berharap untuk mendapatkan madu. Jika dari memelihara lebah, tetapi tidak pernah mendapatkan madu, maka bisa dipastikan kegiatan yang dikembangkan dalam kategori tidak berhasil dan akan ditinggalkan.

Apabila kita menikmat madu, sudah dapat dipastikan kita akan mengasosiasikan dengan lebah. Meskipun seringkali kita, yang awam, seringkali tidak terbayangkan bagaimana lebah bergumul dengan beribu kali penerbangan untuk mengumpulkan setetes demi setetes nektar untuk disimpan dalam sarang.

Perjuangan para peternak lebah atau pemburu lebah, sangat mulia dan menjadi pahala bagi mereka dan semesta. Akan menjadi “muspro” ketika datang pembisik yang meminta “kecurangan” dilakukan, dan dia atau mereka melakukan, maka runtuhlah kepercayaan hingga menembus langit. Keteguhan peternak lebah atau pengumpul madu menjadi taruhan masa depan perlebahan Indonesia dan Dunia.

Madu sebagai alat atau sarana penyehat masuk dalam ruang kegalauan, ketika secara jamaah terjadi tindak yang tidak dibenarkan secara etika. Sangsi otonom akan membebani tindak yang demikian, dari dunia dan selepas dari dunia. Madunya sendiri tidak dapat disalahkan, apalagi lebahnya, karena bisa jadi peternaknya tidak bisa disalahkan secara sepihak. Bisa jadi kita para konsumen yang menyumbang kesalahan karena “ketamakan” untuk mendapat barang di bawah nilai kejujuran. Mencari barang murah dan tidak menghargai karya kejujuran yang diberi nilai lebih dari madu KW.

My honey for your health, Frasa magis yang harus dipertaruhkan dengan militansi kejujuran hidup.

Advertisement
%d bloggers like this: